Thursday, January 7, 2021

Puisi tentang Pendidikan Indonesia


Jauh disana,
Mereka tak mengenal angka
Bahkan hurufpun mereka buta
Kita disini menikmati gemerlap dunia
Lupa bahwa ada yang tengah dilanda kebodohan nyata

Di sana, sangat jauh disana
Mereka berjalan menyusuri hutan
Menerjang sungai
Tuk sekedar duduk di rumah reyot
Menanti guru memberi curahan ilmu

Di sini,
Bahkan jarak tak lagi berjarak
Kuda mesin menjadi pengantar setia
Bahkan disini,
Gedung megah bertingkat mewah
Namun kian tak beradab

Wahai Indonesiaku
Wahai para wakil wakyat
Kapan kalian mewakili kami
Saat kami tertatih demi mengerti bahasa
Saat kami tersingkir karena sarana
Kalian lihai memainkan kata
Menipu angka
Membawa hak kami kedalam perut kalian

Neraka menjadi akhir kalian
Yang tega bersenang dengan harta kami
Hingga kami tersusah di terjang kemiskinan
Pendidikan macam apa ini
Yang terdidik justru menghardik
Yang pintar justru semakin liar
Dan yang papa kian tak tersuarakan

Bagaimana kawanku, inilah Indonesia, dengan berbagai kekayaan alamnya. Pendidikan Indonesia masih juga tak bisa dioptimalkan. Yang duduk di kursi nyaman justru tertidur ketika rapat paripurna.Yang mengelola harta kita justru menggunakannya demi kekayaan semata.

sumber foto: film laskar pelangi

Wednesday, January 6, 2021

Puisi tentang Lingkungan Sekolah

Penulis: Kak Puji Hartono


Lambat menjalar waktu
Suasana hening dalam kekhusu'an menggali ilmu
Sekolahku, gudang ilmuku
Perantara Tuhan dan Kewujudan Alamku

Engkau semakin reot
Tapi ilmu yang menjadi isimu
Tak pudar dengan segala rintangan
Meski berbilik kayu berlantai tanah
Engkau tetap menjadi tempatku mengabdi ilmu

Wahai yang disana
Yang duduk mewakili  rakyat ( Katanya )
Lihatlah kami disini
Menahan dingin saat angin menerpa
Menahan dingin saat air membanjir mengalir

Wahai yang duduk di atas pangkat
Cobalah tengok rakyatmu disini
Kemana guru - guru kami
Yang lama tak kau gaji
Kemana suasana nyaman belajar
Saat kami ingin impian dapat kami kejar
Dimana pendidikan kalian
Atau tahta telah melupakan janji - janji
Hingga kemudian para siswa mati
Dalam kebodohan dan kejahilan

sumber foto: jurnalistiwa.co.id

Tuesday, January 5, 2021

PENOLONG DALAM KEGELAPAN (GURU)


Sosok yang tanpa mengenal lelah.
Sosok yang menindas perlakuan kasar yang dilontarkan siswa-siswi kepadanya.
Sosok yang berlangkah tegap dan tegas walaupun kening dan pipi mereka sudah mulai memancarkan kekusutan dari raut wajahnya.
Wahai guruku…
Kau telah memberi warna pelangi di dalam kehidupan kami.
7 warna yang telah berkumpul menjadi satu paduan.
7 kesempurnaan yang telah kau berikan untuk bekal kami kelak dimasa yang akan datang.
Kau mengajarkan yang awal mulanya kami tidak mengenal huruf abjad sampai kami bisa menjadi orang-orang yang kalian harapkan, orang-orang yang sukses dan orang-orang yang telah menyandang gelar terhormat seperti kalian bahkan akan lebih dari pada itu.
 
Guru…
Maafkan kami yang telah berbuat kesalahan kepada kalian,
Dari hal yang sekecil debu yang tak terlihat bahkan sampai kesalahan yang besar yang bisa terlihat dengan mata kasar,
Tak banyak serumpun do'a yang kami panjatkan,
Semoga kalian guru-guru kami tetap sabar dalam membina dan mendidik kami dan menjadilah PAHLAWAN tanpa tanda jasa dan mengajar tanpa mengenal kata LELAH,
Kami sayang kalian bapak dan ibu guru kami yang tercinta.
 
Sinar pagi membelah bumi,
Sang pengabdi berjalan menenteng lambaran ilmu,
Bersamanya ada lautan pengetahuan,
Yang akan tersiram kepada para pencari wawasan.
 
Guru…
Dalam lenguh segalah perihmu,
Engkau tetap tersenyum menahan pilu,
Dalam perih segalah sakitmu,
Kau berjalan menuntun kami menjadi generasi berilmu.
 
Di pundak kami,
Ada harapan Ayah dan Ibu,
Ada cita - cita menggapai indah masa depan,
Dan engkau Wahai Guru,
Mengangkat pundak kami,
Dan meyakinkan kepada Kami,
"Kalian Pasti Bisa".

sumber foto: salamadian.com

Monday, January 4, 2021

KUMPULAN KATA MUTIARA: PENYEMANGAT, MOTIVASI, DAN CINTA

Penulis: Kak Puji Hartono

Orang yang kuat hatinya, Bukan mereka yang tidak pernah menangis, Melainkan Orang yang tetap tegar ketika banyak Orang menyakitinya.
 
Seberat apapun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tak pernah melebihi batas kemampuan kamu.
 
Hargai dia yg membencimu, karena dia adalah penggemar yg telah menghabiskan waktunya hanya tuk melihat setiap kesalahanmu.
 
Jangan menyerah atas impianmu, impian memberimu tujuan hidup. Ingatlah, sukses bukan kunci kebahagiaan, kebahagiaanlah kunci sukses. Semangat !
 
Jangan iri atas keberhasilan oranglain, karena kamu tidak mengetahui apa yang telah ia korbankan untuk mencapai keberhasilannya itu.
 
Jangan bandingkan orang yg mencintaimu dengan masa lalumu. Hargai dia yg kini berusaha membuatmu bahagia.
 
Wanita itu unik, mereka ingin kamu tahu bagaimana perasaannya tapi mereka tak ingin mengatakannya padamu.
 
Jika kamu mencintai seseorang, cintailah dia apa adanya, bukan karena kamu ingin dia menjadi seperti yang kamu inginkan, karena sesungguhnya kamu hanya mencintai cerminan diri kamu pada dirinya.

Sunday, January 3, 2021

TAHUN BERGANTI

Penulis: Kak Puji Hartono

Detik merangkak mengintai pergantian
Tahun lima belas
Akan menjelma
Rupa
 
Butir kata merangkai cerita
Lukiskan laksya atma
Walau tertatih
Akhirnya
 
Nadi kaharsa mengalir indahnya
Menutup lembar wistara
Pada Desember
Bahagia
 
Bunga api akan membara
Pada gelapnya angkasa
Dengan suara
Menggema
 
Lembar baru akan terbuka
Harapan tereja bersama
Astama menyerta
Semoga

Saturday, January 2, 2021

DOA DI AKHIR TAHUN (Late Post)

Penulis: Kak Puji Hartono

Tuhan
Ampuni aku
Ku selalu sombong
Berjalan menurut kemampuan diri
Tuhan
Jangan biarkanku
Dalam kekuatan sendiri
Hanya KuasaMu terjadi padaku
Tuhan
Lindungi keluargaku
Jaga anak anakku
Aku hanya berserah padaMu
Tuhan
Aku bersujud
Hanya kehendakMu terjadi
Hidupku di tahun baru

Friday, December 11, 2020

KISAHKU KETIKA NGAJI

Penulis: Kak Listari


Pak/Mbok, aku budhal ngaji (Bapak/ibu, saya berangkat mengaji). Begitu pamitku kepada ayah dan ibuku. Setiap sore menjelang magrib, aku berpamitan kepada orang tua untuk ngaji TURUTAN (kitab dasar untuk anak yang baru belajar ngaji). Saat itu usiaku baru sekitar enam tahunan. Aku memang rajin pergi ke LANGGAR (surau), tak peduli hujan atau becek sekalipun, aku tetap berangkat ngaji. Jika gerimis turun, ayah atau ibukku mengambilkan satu daun pisang untuk aku jadikan pelindung (pengganti payung). Jika jalanan becek, sandal aku tenteng di tangan. Istilahnya NYEKER (berjalan tanpa alas kaki). Jika cuaca cerah, aku sering berangkat lebih awal. Dengan tujuan bisa bermain lebih dulu. Di halaman surau, aku sudah di tunggu teman-teman sebayaku, (maaf gak pakai mbak) ada Mutmainah, Siti Aminah dan masih banyak lagi.

Pernah suatu hari, sebelum tiba sholat magrib, aku dan teman-teman OBAK  DELIKAN (bermain petak umpet). Sasaran untuk sembunyi aku pilih di bawah kolong surau. Saat itu bangunan surau seperti rumah panggung, jadi ada ruang atau rongga di bawahnya. Aman bagiku untuk sembunyi dibawahnya, karena badanku yang mungil. Singkat cerita, waktu sholatpun tiba. Seperti biasa, aku ambil wudhu dan bergegas masuk surau. Ketika aku melangkahkan kaki naik ke surau, beberapa temanku teriak, "Uler, Uler," sambil menunjuk ke arah kerah bajuku yang berwarna putih saat itu. Kontan aku kaget dan berusaha menepiskan tangan kiriku ke arah kerah baju, sambil menoleh, aku lihat seekor ULER GENI (ulat berbulu hitam), sebesar ibu jari sedang bertengger di pundak ku. Ya Allah, takut campur jijik aku dibuatnya. Sejak saat itu aku takut sana ulat.


Masih di tempat yang sama di surau yang berkah, Listari kecil juga sering usil. Usil yang ini tak pernah aku lupakan. Ketika sholat magrib berjalan, aku berada persis di sebelah kiri Dhe Nyamirah (alm), dan saat itu sedang duduk diantara sujud. Pada awalnya aku tidak sengaja jika kaki kananku tertindih pantat DheYam. Seharusnya, duduk antara dua sujud berikutnya, kakiku harus ditata agar tidak tertindih yang kedua. Namun saat itu rasa usilku tiba, justru saat duduk takiyat pertama, kakiku aku selonjorkan lebih panjang lagi biar tertindih. Dan juga takiyat akhir, makin panjang lagi, kaki ku selonjorkan. Alhasil DheNyam tidak nyaman dengan keusilanku. Selesai salam, sedikit omelan aku dapatkan dari beliau. Yach...... karena aku salah, cukup diam seribu bahasa. (Al-fathehah untuk beliau, semoga Husnul khotimah)

Keusilanku tidak hanya berhenti disitu saja. Saat itu aku sudah kelas 4 SD. Lis, Mut, Siti, memang tiga serangkai yang jarang terpisahkan. Saat SD, sekolah, ngaji, bermain, mandi di sungai, sering bareng. Usilpun juga bareng-bareng. Di RT kami terkenal Dhe Sariyem penjual lonthong. Setiap selesai sholat magrib, bisa di pastikan lonthong DheYem sudah matang. (Wayahe ngentas). Bau kas sayur lodeh yang tercium di sekitar, membuat yang mencium tertarik untuk membelinya. Saat itu giliran ngaji kami bertiga sudah selesai. "Ayo nomahe DheYem" salah satu dari kami mengajak. Bertiga setuju, dan berangkatlah ke sebelah barat dapur DheYem (kebetulan jalan setapak).

Di sini setan membisiki kami, entah siapa yang punya ide, tiba kami mengambil dahan daun pepaya. Untuk apa hayooo. Yach.... ini salah satu keusilan kami. Batang daun pepaya kami pakai meniup UBLIK (lentera) nya DheYem yang di gantung di sela-sela dinding yang terbuat dari bambu. Tiupan itu seolah-olah ada angin dari luar dan menerpa lentera. Tiupan pertama oleh Mutmainah, dan matilah lentera di dalam dapur. Terdengar suara lembut DheYem dari dalam. "Hadeh ublikku mati, kenek angin" Sambil menghidupkan kembali dengan mengambil api dari PAWON. Tiupan keduapun kami lakukan. Tapi untung tidak kami lakukan tiupan ketiga, karena suara adzan Isyak sudah terdengar. (Al Fatihah untuk DheYem, semoga tenang di surgaNya) Aamiin.

The third true story
Lies 5-12-20

PENGERTIAN DAN SYARAT PRAMUKA PENGGALANG GARUDA

Penulis : Admin blog Salam Pramuka! Kakak-kakak yang berbahagia, hari ini kami akan bercerita tentang Pramuka Penggalang Garuda. Apa pengert...